Transformasi Pembelajaran di Zaman Now

LEARNING



Kondisi pandemi seperti saat ini memaksa semua orang untuk terus berubah dan beradaptasi termasuk dalam dunia pendidikan guru, siswa dan orang tua. Kegiatan belajar mengajar tidak bisa dilakukan seperti dalam keadaan normal begitu juga dengan kegiatan pembelajaran lainnya seperti ekstrakurikuler, kegiatan minat bakat dan lainnya.

Sebenarnya perubahan itu merupakan ke karena seperti ungkapan bijak filsuf Yunani kuno Heracletos yang mengatakan “semuanya akan berubah kecuali perubahan itu sendiri” termasuk dalam hal pendidikan. Tidak hanya karena pandemi saja, dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat mau tidak mau suatu saat dunia pendidikanpun pasti akan berubah.

Hasil studi PISA (Program for International Student Assessment), yaitu studi yang memfokuskan pada literasi bacaan, matematika, dan sains, menunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara yang diteliti. Hasil hampir sama juga ditunjukan dalam penelitian yang dilakukan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) yang menunjukkan siswa Indonesia berada pada ranking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis dan pemecahan masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi (Depdiknas, 2013: 3).

Rendahnya mutu pendidikan Indonesia pada penelitian dua lembaga internasional di atas mengindikasikan masih rendahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (HoT) pelajar Indonesia. Hal ini jika dibiarkan tentunya akan berakibat pada menurunnya daya saing SDM Indonesia di masa depan. Terlebih memasuki era industri 4.0 jumlah permintaan tenaga kerja manual dan rutin semakin menurun. Sebaliknya permintaan untuk tenaga kerja non-rutin yang membutuhkan kemampuan interpersonal dan analitis terus meningkat (Asesmen Nasional, 2020: 1).

Rendahnya daya nalar dan kemampuan berpikir tingakat tinggi (HoT) ini salah satunya disebabkan karena sistem dan budaya pendidikan di Indonesia cenderung hanya memfokuskan pada kemampuan berfikir tingkat dasar. Anak-anak biasa diajak hanya menghafal tanpa memahami materi yang mereka hafalkan. Untuk mata pelajaran sosial dan bahasa kebanyakan hanya diajari menghafal seputar pengertian, nama tokoh, waktu kejadian dan semisalnya. Hal yang sama juga terjadi pada mata pelajaran sains dan matematika. Anak-anak hanya mampu menghafal rumus dan prosedur penyelesaian soal tanpa dibiasakan memahami konsepnya terlebih dahulu, terlebih untuk mengaplikasikannya dalam suatu permasalahan riil di dunia nyata. Seorang guru dimasa kini dituntut untuk terus berinovasi dalam menciptakan model pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif model Total Learning adalah suatu inovasi model pembelajaran yang penulis tulis dengan memodifikasi model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dan Jigsaw yang diharapkan dapat meningkatkan antusias belajar siswa serta dapat melatih kerjasama dan kreativitas dalam menyelesaikan permasalahan. Tahapan dalam pembelajaran model Total Learning secara berurutan dapat dilakukan sebagai berikut.

1. Guru memberikan materi pembelajaran sesuai dengan KD yang ingin dicapai berdasar RPP yang disiapkan.

2. Guru membagi kelompok secara heterogen seperti dalam model STAD dan Jigsaw tetapi dalam pembagiannya dibuat lebih longgar sehingga tetap ada keberagaman kemampuan disetiap kelompok. Hal ini untuk melatih setiap tim untuk kreatif menyusun strategi dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki setiap anggota kelompoknya. Jadi untuk pembagian komposisi siswa dengan kemampuan tinggi, rendah dan menengah disetiap kelompok tidak perlu sama persis.

3. Pada tahap selanjutnya setiap tim diminta untuk mengatur strategi untuk membahas materi/ persoalan yang diberikan. Materi/ persoalan disusun sedemikian rupa dari tingkat kesulitan maupun jumlahnya agar tidak akan bisa diselesaikan tanpa kerjasama tim yang baik. Hal ini agar siswa bisa mengeluarkan potensinya untuk belajar secara total (total learning) dengan memberikan stimulus berupa tantangan untuk meningkatkan kesiapan belajar siswa.

4. Dalam proses diskusi semua materi/ permasalahan harus diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang diberikan. Disini setiap kelompok dituntut untuk kreatif dan efektif dalam mambagi tugas, misalnya anak yang memiliki kemampuan tinggi mendapatkan beban tugas untuk dipelajari/ diselesaikan lebih banyak kemudian siswa yang memiliki kemampuan menengah cukup satu permasalahan dan siswa yang dengan kemampuan kurang bisa saling bekerjasama untuk membahas satu permasalahan. Pada tahap ini mirip dengan tahapan pada model Jigsaw karena setelah anggota yang ditugasi membahas materi/ permasalahan yang diberikan sesuai dengan kesepakatan kelompok hingga menjadi ahli (expert), anggota tersebut harus membagikan kepada anggota kelompok yang lain sehingga diakhir diskusi semua anggota harus menguasai materi/ permasalahan yang diberikan.

5. Dalam berdiskusi semua anggota harus bisa memahamkan anggota lainnya karena nanti guru akan menunjuk secara acak maupun dengan mengundi salah satu anggota untuk menjadi juru bicara (jubir) mewakili kelompoknya. Nilai kelompok diambil dari baik tidaknya presentasi dari jubir tersebut sehingga semuanya harus memahami materi dengan baik. Jika waktunya mencukupi bisa juga dibuat agar semua anggota bisa presentasi. Hal ini agar tidak ada anggota yang menggantungkan diri satu sama lain serta tercipta akuntabilitas pribadi dan tanggung jawab tiap anggota.

Dalam model ini ada dua penghargaan yang diberikan ditandai dengan memberikan tanda bintang pada kelompok yang berhasil. Penghargaan pertama diberikan bagi tim yang berhasil menyelesaikan permasalahan paling cepat dan tepat (efektif). Untuk penghargaan ini semua tim harus berebut untuk mendapatkannya. Penghargaan kedua diperoleh dari hasil presentasi, untuk penghargaan yang kedua ini semua tim mendapatkan kesempatan secara bergantian. Total nilai diperoleh dengan menjumlahkan bintang yang diperoleh. Setiap tim harus mengeluarkan seluruh kemampuan untuk belajar (total learning) agar bisa menjadi pemenang.

Metode pembelajaran total learning secara lebih luas mengambil filosofi untuk membuat para siswa untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka miliki demi meraih prestasi sehingga bisa dikembangkan lagi dengan mengeksplorasi model pembelajaran yang sudah ada sesuai kreativitas guru. Penerapan total learning juga harus didukung dengan kerjasama yang baik antara siswa, guru dan orang tua untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Misalkan di sekolah ada program literasi maka selama di rumah orang tua juga membuat kegiatan literasi misalkan dalam satu minggu harus membaca dan merangkum satu buku. Jadi total learning adalah gabungan antara metode pembelajaran kreatif dan pola sikap yang ditanamkan kepada peserta didik untuk memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini

Image

0