Meningkatkan Pemahaman Expert Tentang Blended Understanding melalui IHT

LEARNING

Oleh: Suwarna SAg MPd, Kepala MI Sudirman Kec Mojogedang Kab Karanganyar

PANDEMI Covid-19 yang telah terjadi di berbagai belahan dunia telah berpengaruh terhadap adanya perubahan tatanan kehidupan. Contoh kongkretnya adalah perubahan yang terjadi pada dunia pendidikan. Pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka secara penuh, pada masa pandemi ini tidak lagi bisa dilakukan. Pembelajaran hanya bisa dilakukan secara daring/on the internet atau tatap muka secara terbatas dengan mematuhi protokol kesehatan. Dengan demikian, mau tidak mau expert dan peserta didik wajib memahami media pembelajaran berbasis web. Melalui media web ini, pembelajaran dapat tersampaikan kepada peserta didik. Penserta didik juga dapat memberikan respon meskipun dari rumah masing-masing.

Pembelajaran daring bukan berarti tanpa kekurangan. Expert dan peserta didik tetap menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Saat ini, pembelajaran di MI Sudirman Kedungjeruk, Mojogedang, Karanganyar dilakukan secara tatap muka 50 persen setelah lebih dari satu tahun dilaksanakan secara daring dari jarak jauh. Sehingga madrasah dapat menerapkan pembelajaran model blended learning. Melalui model pembelajaran yang menggabungkan antara tatap muka dengan daring ini dirasa cukup efektif. Menurut Mosa (2006), blended finding out adalah product pembelajaran yang menggabungkan dua unsur utama, yaitu pembelajaran di kelas (classrom lesson) dengan on the internet finding out. Sayangnya, masih banyak expert yang belum memahami dengan baik tentang konsep blended finding out dan strategi implementasinya.

Sebagai solusi dari persoalan yang dihadapi oleh sebagian expert MI Sudirman Kedungjeruk, Kepala Madrasah berinisiatif mengadakan In Property Schooling (IHT) untuk memfasilitasi expert dalam menambah wawasan dan saling berbagi ilmu tentang product pembelajaran blended learning. Hal yang dilakukan pada kegiatan IHT adalah: Pertama, melakukan studi lingkungan. Kepala madrasah mengidentifikasi apa saja yang diperlukan pada saat pembelajaran dan kesulitan apa saja yang dihadapi oleh expert dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan memahami kesulitan ini maka kepala madrasah dapat menentukan langkah berikutnya.

Kedua, mencari guru yang berbakat dalam menyiapkan sarana visual pendukung (gambar atau online video) untuk memberikan tambahan pemahaman kepada peserta didik. Guru yang mempunyai kemampuan ini dikelompokkan untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Ketiga, kepala madrasah memfasilitasi IHT dengan memberdayakan expert yang mahir teknologi untuk sharing dengan expert lainnya. Kegiatan ini dilakukan secara terencana dan terprogram, sehingga akhir dari kegiatan ini semua expert dapat melakukan praktek secara langsung.

Menurut Dwiyogo (2018), design pembelajaran blended studying tidak terlepas dari penggunaan teknologi sebagai pendukung proses belajar mengajar. Adapun perangkat-perangkat teknologi yang dapat dilibatkan dan dikombinasikan dengan proses belajar blended mastering antara lain Podcast, Laboratorium virtual (E-Lab), dan Technologies Enhanced learning (TEL). Keempat, setiap expert melakukan micro educating dimana peserta lain dapat menjadi peserta didik saat melakukan praktek pembelajaran blended mastering. Ini dapat mengecek sejauhmana pemahaman peserta IHT terhadap materi yang dipelajari. Apabila peserta masih belum faham, pemateri mengulangi penjelasannya.

Melalui kegiatan IHT ini, guru-guru MI Sudirman Kedungjeruk, Mojogedang, Karanganyar menjadi lebih faham dan terampil dalam melaksanakan pembelajaran design blended studying. Expert juga lebih percaya diri dalam mendisain pembelajaran berbasis teknologi yang efektif dan menyenangkan. Kendala sinyal yang sering dihadapi oleh peserta didik saat daring dapat teratasi dengan penambalan pembelajaran saat tatap muka. Sebaliknya, penjelasan expert yang masih bersifat umum akibat terbatasnya waktu yang disediakan pada saat tatap muka dapat dikembangkan lagi wawasannya saat pembelajaran daring. (*)